Adik Kecilku

Penulis : Paul W.Kleinschmidt

Memang sulit sekali menjalani masa kecil dengan seorang kakak laki- laki yang usianya berbeda tujuh tahun dari saya. Saya sangat mengidolakan Scott, dan sakit hati sekali rasanya kalau saya tidak bisa pergi ke tempat-tempat yang suka didatanginya dan berkumpul dengan teman-temannya. Saya selalu saja memainkan peran adik kecil yang berusaha mati-matian sekedar bisa menyesuaikan diri dengannya. Yang saya inginkan saat itu hanyalah, kakak saya bangga pada saya.

[block:views=similarterms-block_1]

Jadi, ketika Scott mengatakan bahwa dia akan pergi selama musim panas, mengajar anak-anak cacat mental, dan menawari saya apakah saya mau menjadi relawan di sana, saya langsung memanfaatkan peluang yang ada untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Saat itu usia saya empat belas tahun dan satu-satunya relawan dalam program itu. Semua orang yang lain berumur dua puluh satu tahun ke atas, dan masing-masing sedang menjalankan usaha memperoleh nilai kredit dalam mata pelajaran khusus, seperti kakak saya, atau sekedar berusaha mencari uang tambahan untuk musim panas. Program itu kira-kira diikuti oleh tiga puluh murid, dengan mayoritas anak-anak sebaya saya. Pengalaman saya berhadapan dengan dunia anak-anak yang cacat mental itu sangat terbatas, dan di hari pertama, saya agak `ketinggalan kereta.´

Satu persatu kursi roda bergulir turun dari bus, masing- masing membawa penumpang spesialnya sendiri, yang memamerkan senyuman yang lebih cerah daripada matahari musim panas. Orang tua mengantar anak-anaknya, yang masing-masing penuh kegembiraan yang juga pernah saya rasakan di hari pertama sekolah saya.

Lalu datang Mikey. Mikey berumur sembilan tahun, tinggi, kurus, dan menderita gangguan emosi yang parah. Dia berdiri sendirian di sudut, maju- mundur, ketakutan. Seakan dia merasa dirinya tidak terlihat oleh murid-murid lain atau para konselernya. Saya berjalan mendekatinya, dan mengulurkan tangan saya, tetapi dia malah mulai menjerit-jerit. Saya ingat tatapan malu di mata kakak saya. Ingin rasanya saya merangkak ke bawah batu dan berhenti saja. Saya langsung mundur dan mendekati murid lain.

Setiap pagi, Ibu Mikey mengantarnya, dia selalu pergi ke sudut yang sama, dan menghabiskan hampir sepanjang harinya di sana sendirian saja. Bahkan murid-murid lain menghindarinya, tidak ingin menimbulkan jeritan atau amukan amarahnya.

Setiap sore, para konseler meminta semua murid untuk berbagi kelompok dua-dua, untuk melakukan berbagai kegiatan. Mikey akan tetap berdiri di sudutnya, memperhatikan semuanya. Setelah merasa lebih nyaman beberapa hari kemudian, saya mendatangi pemimpin konseler dan menanyakan perihal Mikey. Dia menjelaskan bahwa Mikey telah menjadi murid program ini selama beberapa tahun, dan selalu saja menghabiskan hari-harinya di sudut itu. Tidak pernah ada orang yang merasa perlu meluangkan waktu untuk mendekatinya. Lalu saya bertanya, apakah saya boleh mendekatinya. Mulanya, pemimpin konseler tidak menanggapi, dan saya bisa melihat dari tatapan matanya, seakan dia mengatakan "Kau ini baru empat belas tahun! Memangnya apa saja yang bisa kau lakukan?"

"Tentu, silahkan saja. Apa ruginya?" akhirnya, dia menjawab juga.

Maka setiap pagi, saya menunggu kedatangan Mikey. Ketika dia berjalan ke sudutnya, saya membuntutinya, lalu berdiri atau duduk di sebelahnya, berjam-jam lamanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia akan menjerit-jerit dan semua orang akan menoleh, tetapi saya hanya balas memandangi mereka, berteguh hati untuk tidak berhenti di tengah jalan. Hal ini berlangsung selama dua minggu. Saya tahu, para konseler itu pasti sudah membicarakan perihal saya kepada kakak saya. Musim panas itu ternyata tidak seindah yang saya impikan; saya berharap bisa mempererat ikatan antara saya dengan kakak saya, bukan malah menjauhkannya begini.

Lalu sesuatu terjadi, yang mengubah hidup saya selamanya. Pada suatu pagi, saya bangun kesiangan, dan kakak saya sudah pergi ke tempat kerjanya itu. Saya bergegas melompat ke sepeda dan ngebut ke sekolah itu, malu karena telah kesiangan dan khawatir kena masalah.

Saya masuk kedalam ruang kelas itu, dan mendadak ruangan jadi sepi. "Oh, tidak," pikir saya.

Lalu saya mendengar seseorang bertepuk tangan. Saya mengabaikannya dengan anggapan paling-paling itu hanya salah seorang murid yang sedang mengungkapkan kegirangannya. Lalu, yang lain mulai bertepuk tangan. Nah, ada lagi murid kegirangan, pikir saya. Tidak, ternyata salah seorang konseler yang bertepuk tangan. Ada apa? Lalu tepukan tangan pun meledak. Setiap orang bertepuk tangan. Apakah mereka semua menyindir keterlambatan saya?

Saat itu, mata saya bertatapan dengan mata kakak saya. Dia sedang tersenyum pada saya, bertepuk tangan paling keras di antara yang lain. Saya hanya berdiri terpaku, tertegun, sampai pimpinan program mendekati saya dan menjelaskan bahwa ini semua ada kaitannya dengan Mikey.

Ternyata, ketika Mikey datang pagi itu, dan tidak menemukan saya, dia pergi ke setiap meja, mendekati konseler, dan menanyakan , "Mana Paul ? Mana Paul?"

Pemimpin konseler memberitahu saya bahwa itulah kata-kata pertama yang diucapkan Mikey selama dua tahun terakhir hidupnya.

Saya tidak tahu harus berkata apa. Mata saya berkaca-kaca. Saya menoleh ke arah Mikey di sudut ruang kelas. Dia sedang tersenyum, menunjuk saya, mengatakan,"Paul! Paul! Paul!"

Saya merasakan sentuhan sebuah lengan di bahu saya. Ternyata Scott. "Inilah adik kecilku," katanya kepada setiap orang dengan nada penuh kebanggaan. Saat itulah saya mulai menangis.

*) Tahun berikutnya, Paul dipekerjakan sebagai konselor. Keluarga Mikey pindah ke wilayah Barat, dan Paul sedih membayangkan tidak akan bisa bertemu dengan Mikey lagi. Di hari terakhir program tahun itu, dia menerima kiriman kartu post dari California berisi kata-kata "Hai Paul" dengan tulisan tangan Mikey yang susah dibaca.

Sumber: Heartwarmers