Menciptakan

Oleh: Yosi Rorimpandei

Kata “menciptakan” adalah kata kedua dalam Kejadian 1:1. Namun, karena menyesuaikan dengan aturan Bahasa Indonesia, maka dalam alkitab terjemahan Bahasa Indonesia, kata “menciptakan” di tempatkan sesudah kata Allah.

Dalam naskah Ibraninya, kata “menciptakan” menggunakan kata BARA. Kata BARA dalam pengertian "mencipta" hanya dikenakan kepada TUHAN. Artinya, tidak ada aktivitas "mencipta" lainnya yang dapat disetarakan dengan aktivitas "mencipta"-nya TUHAN.

Bagaimanapun kemampuan manusia, termasuk kemampuan menghasilkan individu baru melalui teknologi yang kini disebut kloning, tidak akan mampu menyamai kemampuan "mencipta"-nya TUHAN.

Dalam alkitab berbahasa Latin, yaitu yang disebut Vulgata, kata BARA diterjemahkan dengan kata CREATIO, yaitu suatu istilah yang menjadi akar dari istilah yang kini kita kenal dengan sebutan "kreativitas."

Para ahli psikologi modern, selama bertahun-tahun pernah mengusulkan adanya Creativity Quotient (CQ) untuk melengkapi IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Namun, hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tingkatan kreativitas manusia tidak dapat diukur dengan standard tertentu, seperti ketika kita mengukur IQ. Karenanya, CQ pun batal dijadikan standard baru.

Dari sini jelas, bahwa tingkatan kreativitas adalah suatu tingkatan yang tak terukur dengan berbagai pendekatan psikologis modern. Apalagi, ketika kita berbicara tentang kreativitas TUHAN. Suatu tingkatan kreativitas tertinggi yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia.

Dengan kreativitas yang Maha Sempurna itulah, TUHAN menciptakan alam semesta ini, dan karena itulah juga kita berkewajiban untuk memelihara hasil kreativitas TUHAN.

Ada banyak hasil kreativitas TUHAN di sekitar kita. Mulai dari diri kita sendiri sampai alam semesta dimana kita tinggal, semuanya dihasilkan oleh kreativitas itu.

Kini, sebagai mahluk ciptaan TUHAN, sudah sepantasnya kita melakukan segala upaya kita untuk menjaga ciptaan-ciptaan TUHAN itu. Sebab, salah satu wujud kecintaan kita kepada TUHAN adalah bagaimana kita mencintai ciptaan TUHAN lainnya.

Saya teringat, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya memiliki kegemaran membuat cerita bergambar (komik). Salah satu komik saya yang paling disenangi oleh teman-teman saya bercerita tentang petualangan seorang pahlawan cilik yang berjuang membela kebenaran dan keadilan.

Karena komik itu sangat disukai oleh teman-teman saya, mereka pun sering meminjamnya dan membawanya ke rumah meskipun komik itu belum selesai. Saya akan melanjutkan komik itu setelah mereka selesai membacanya.

Suatu ketika, komik itu rusak gara-gara teman-teman saya berebutan membacanya. Mereka dengan sangat menyesal mengembalikan komik itu kepada saya dan memohon maaf. Sebagai gantinya, mereka memberikan kepada saya buku kosong untuk saya menggambarkan edisi lanjutan komik itu.

Saya memaafkan mereka dan saya pun memutuskan untuk menggambar kembali komik yang sudah saya buat. Meski demikian, rasa kecewa dan rasa tidak percaya muncul dalam diri saya terhadap mereka. Sejak itu, saya tidak lagi mengizinkan komik itu dibawa pulang atau diperebutkan. Mereka pun nampaknya memahami keputusan saya itu.

Kejadian itu membuat saya berpikir bahwa betapa seringnya kita menyakiti hati TUHAN. Ketika kita dengan “tanpa rasa bersalah” merusakkan segala hasil kreativitas TUHAN. Merusak keseimbangan alam, membakar hutan, membuat berbagai bentuk polusi bagi lingkungan, hingga tindakan-tindakan yang mungkin kita anggap sepeleh, seperti membuang sampah sembarangan atau mencemari lingkungan dengan bahan-bahan berbahaya.

TUHAN memang mengampuni. Ia sanggup mengembalikan segala kerusakan itu dengan Kemahakuasaan-NYA. Namun, bukankah TUHAN tidak pernah kompromi dengan kesalahan yang berulang-ulang?

Bencana alam yang kini banyak kita tanggung hendaknya menyadarkan kita betapa kita telah berkali-kali merusak kreativitas TUHAN, sementara kita hanya sanggup mengembalikan “buku kosong” kepada-NYA untuk meminta DIA “melukiskan kembali” setiap kerusakan yang kita buat. Inikah wujud kecintaan kita kepada-NYA?