Otokritik

Penulis : Eka Darmaputera

"Dunia bertanya, kita menjawab". Begitulah kira-kira semangat serta motivasi yang melatar-belakangi rangkaian pembahasan kita. Dengan perkataan lain, kita akan mempertanggungjawabkan "iman" kita terhadap "gugatan" dan "keragu-raguan" dunia. Memang sudah semestinya begitu! Sebab "iman" bukanlah sesuatu yang bersifat pribadi atau "privat" semata-mata. Yang seperti "dompet" kita sembunyikan rapat-rapat di dalam saku. dan cuma sekali-kali saja kita keluarkan, bilamana perlu. "Iman" juga bukan sesuatu yang "subyektif" dan "irasional". Semacam selera pribadi, ada yang gemar "dendeng balado", dan ada yang senang "nasi soto". Di mana yang bersangkutan tak perlu menjelaskannya, dan orang lain tak berhak mempersoalkannya. "Iman kristiani," tulis Charles Colson, "bukanlah lompatan-lompatan acak tanpa nalar. Setiap orang yang rasional dan obyektif akan mendapati, betapa klaim-klaim yang ada dalam alkitab adalah dalil- dalil yang masuk akal, didukung oleh logika dan bukti-bukti nyata." Melampaui akal, memang, tapi tidak bertentangan. "Trans-rasional", ya, tapi bukan "irasional". "Lintas-akal", bukan "nir-akal".

[block:views=similarterms-block_1]

SAYANGNYA, acap kali orang-orang kristen sendiri-lah yang membuat kekristenan jadi kelihatan tak ada bedanya dengan "tahayul" atau "dongeng" atau "ilusi". Membuat orang-orang kristen jadi terkesan naif, picik, bodoh, tapi keras kepala. Tak layak menerima respek. Betapa sering orang-orang kristen menampilkan diri seperti "bonek", alias "bondo nekat". Modal utamanya cuma "nekat". Dan senjata andalannya, "ngotot" dan "ngeyel". Pernah saya mendengar seorang pendeta bekoar begini di depan umatnya, "Mau percaya, berarti harus mau terima saja. Tanpa banyak tanya. Tanpa banyak cingcong. "Iman" kok mesti masuk akal. Kalau sudah masuk akal, "iman" ya tidak perlu lagi". "Iman", bagi pak pendeta itu, berarti percaya saja secara membabi- buta. Tanpa banyak tanya dan tanpa boleh ragu Wah, wah, wah! Pantas saja, banyak orang kristen jadi kelihatan nau-nau, dungu, naif, picik dan fanatik, bila bicara soal imannya! Salahkah Templeton, bila ia menolaknya?

PADAHAL, menurut Ibrani 12:1, setiap orang kristen diposisikan bagaikan "atlit" yang sedang "berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan". Beriman berarti berlomba perlombaan iman. "Berlomba", kita tahu, berarti berkutat sekuat tenaga untuk "melewati" dan "melebihi" pelomba yang lain. Jadi, bila ada orang berdasarkan rasio-nya mempertanyakan secara rasional "iman" kita, kita mesti berusaha menjawabnya dengan "lebih" rasional lagi! Tidak asal "ngeyel" atau "pokoknya". Dalam posisi sebagai atlit yang sedang berlomba itu, di ayat yang sama kita diingatkan agar "menanggalkan semua beban yang begitu merintangi kita". Supaya, dengan demikian kita mampu berlomba secara optimal. Dengan tekun. Penuh konsentrasi. Dan inilah yang akan coba kita lakukan di sini. "Dunia bertanya" dan kita "menjawab". Kita hendak menyatakan "akuntabilitas" serta "transparansi" iman kita. Pertama-tama dengan "menanggalkan semua beban". Artinya, kita akan membersihkan dan merapikan dulu rumah kita, sebelum mempersilakan orang lain masuk serta tinggal di dalamnya.

TERNYATA, alangkah banyaknya "perintang" yang harus kita "tanggalkan"! Meruahnya "sampah" yang mesti kita sapu dari pekarangan rumah kita! Yang saya maksudkan adalah, konsepsi-konsepsi salah yang telah melahirkan ekspektasi-ekspektasi palsu, dan yang pada gilirannya menampilkan kesan serta gambaran yang menyesatkan, tentang kekristenan yang sebenarnya. Mustahillah kita menjawab Templeton, dengan tanpa terlebih dahulu membereskan serta menjernihkan konsepsi-konsepsi dan ekspektasi- ekspektasi kita sendiri. Karenanya, kita perlu melakukan "otokritik". Melakukan "otolritik" atau "kritik diri" tidak sama dengan "membuka borok sendiri di hadapan orang lain". Tapi ekspresi serta manifestasi kematangan dan kedewasaan diri. Dan betapa vitalnya otokritik itu! Sebab hanya dengan berani melihat dan mengakui kekurangan sendiri, terbuka kemungkinan bagi perubahan. Dan perubahan adalah prasyarat mutlak, atau conditio sine qua non, bagi perkembangan serta pertumbuhan. Tidak berubah, tidak bertumbuh. "Iman" yang enggan melakukan otokritik, lambat atau cepat akan mengeriput menjadi iman yang eksklusif, tertutup dan esoteris. Alias "iman" yang statis, tertutup, lalu mati. Sebab semua yang hidup, pasti berubah dan bertumbuh dan berkembang. Tentu saja benar, bila orang mengatakan " Lho, tapi Tuhan toh tidak berubah `kan?!". Ya, tapi kita bukan Tuhan! "Iman" pun bukan Tuhan!

APA saja yang perlu dikritik dari praktik penghayatan iman orang kristen? Banyak sekali! Saya hanya akan mengambil beberapa saja. Yang pertama, adalah gejala yang paling banyak saya lihat akhir- akhir ini, yang saya namakan "DOMESTIKASI IMAN". Apa artinya? "Domestikasi" artinya, secara bebas, adalah "penjinakan". Di Taman Safari, satwa-satwa liar yang biasanya hidup bebas di hutan, kita "jinakkan", kita "domestik"kan. Ditinjau dari satu sisi, kelihatannya baik sekali yang dilakukan itu! Kebutuhan hewan-hewan itu diberi perhatian sepenuhnya.. Makan, minum, tempat tinggal, suasana sekitar semua diperhatikan. Hewan- hewan itu tak perlu berjuang mencari makanan mereka sendiri. Karena itu tak perlu takut kelaparan. Tak perlu memangsa binatang lain, dan tak perlu khawatir dimangsa binatang lain. Aman. Yang mungkin luput dari perhatian kita adalah, bahwa "domestikasi" pada hakikatnya adalah "penaklukan". Hewan-hewan itu kita "tundukkan" di bawah kemauan kita, hingga tak mampu lagi menghadirkan diri sesuai dengan hakikat diri mereka yang sebenarnya: liar dan bebas. Apa hubungannya ini dengan "domestikasi iman"? Walau pasti tidak kita akui, dan sering pula tanpa kita sadari, "iman" dan sebenarnya "Tuhan" sendiri dengan satu dan lain cara, kita tundukkan Dia di bawah penguasaan kehendak kita. Memang benar, kita amat memperhatikan-Nya. Kita beribadah kepada-Nya dengan khidmat. Kita memuji dan memuja-Nya dengan semangat. Kita mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan dengan cermat dan akurat. Tapi dengan maksud apa? Memang untuk menyenangkan hati-Nya. Paling sedikit, mencegah agar jangan sampai Ia murka. Tapi mengapa ini kita lakukan? Sebab bila hati-Nya senang, maka seperti halnya kita hati-Nya akan lebih terdorong untuk memberi apa saja yang kita minta. Sebaliknya, jangan membuat Ia kesal! Itulah motivasi tersembunyi dari semua ibadah dan pujian dan korban persembahan kita bagi "Tuhan"! Supaya Ia senang dan mau tunduk, lalu melimpahi kita dengan berkat. Agar Ia tidak "bebas" dan "liar" lagi, tapi "jinak". Penurut.

BAYANGKANLAH wajah kekristenan seperti apa yang ditampilkan di hadapan dunia, sebagai akibat "domestikasi iman" ini! "Domestikasi iman" cuma punya satu makna:, yakni menempatkan "diri sendiri" sebagai pusat kepedulian. Dan yang lain termasuk Tuhan berfungsi untuk melayani keinginan serta kehendak kita itu. Iman yang telah didomestikasi adalah iman yang egois dan egosentris. Di mana Tuhan pun adalah "hak milik" pribadi dan eksklusif sekelompok orang saja. Ibarat "ternak", mesti ada pemiliknya. Inilah, saudara, antara lain, penyebab mendasar mengapa kekristenan bisa menjadi iman yang eksklusif, tertutup, dan introvert. Tertuju ke dalam. Dan sangat egois. Memang ada sih orang-orang Ada yang beriba hati melihat penderitaan sesama-nya. Lalu sekali-sekali mengulurkan tangannya untuk menolong. Tapi apa benar-benar peduli? Apakah tindakannya itu dilandasi oleh kesadaran, bahwa Tuhan adalah Bapa mereka juga? Dan karena itu menolong mereka bukanlah "kebaikan" atau "kedermawanan", melainkan "kewajiban"? Bahwa kemelaratan dan penderitaan sesama kita adalah utang kita? Seringkali tidak! Sebab kasih dan kebaikan Tuhan diklaim sebagai hak eksklusif mereka, maka menolong sesama adalah suatu tindakan "ekstra". Yang baik bila dilakukan, tapi tidak harus. Demikianlah citra yang dimiliki dunia. Bahwa Tuhan tidak menaruh kepedulian terhadap penderitaan umat manusia, karena itu "beriman" itu apa gunanya. Ini acap kali disebabkan oleh sikap orang-orang Kristen sendiri. Salahkah dunia bila ia menolak kekristenan, karena kekristenan toh juga tak peduli terhadap mereka?

Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 18 Juni 2005